ANTARA PUING SUMATERA DAN AMBISI KESEJAHTERAAN 2026

Kita memasuki tahun 2026 dengan langkah yang berat, menyeret sisa-sisa duka dari penghujung tahun lalu. Di Sumatera, khususnya wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, perayaan tahun baru nyaris tak terdengar, tenggelam oleh deru banjir bandang dan longsor yang menyisakan pilu mendalam bagi ribuan keluarga. Tragedi ini bukan sekadar amuk alam, melainkan sebuah peringatan keras tentang “dosa ekologis” dan rapuhnya benteng alam kita akibat deforestasi yang tak terkendali. Di balik gemerlap kembang api di kota-kota besar, ada ribuan saudara kita yang masih tertidur di pengungsian, meratapi hilangnya tempat bernaung dan kepastian hari esok.

Refleksi perjalanan setahun terakhir menunjukkan wajah Indonesia yang ambigu: di satu sisi kita mengejar angka-angka makro yang memukau, namun di sisi lain kita gagal melindungi rakyat dari ancaman lingkungan yang kian nyata. Kemakmuran yang didambakan masyarakat kini bukan lagi sekadar narasi pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen atau deretan infrastruktur megah. Bagi warga di kaki bukit Sumatera atau pesisir yang rentan, kesejahteraan adalah rasa aman—aman dari bencana yang mengintai saat hujan turun dan aman dari ketidakpastian pangan akibat sawah yang terendam.

Wajah kini Indonesia memang tengah bersolek dengan ambisi ekonomi baru di bawah kepemimpinan yang menjanjikan stabilitas dan kemandirian. Namun, kesejahteraan yang sejati tidak boleh hanya terkumpul di pusat-pusat pertumbuhan atau lantai bursa. Masyarakat di akar rumput kini lebih kritis; mereka menuntut kehadiran negara yang konkret, mulai dari pengendalian harga kebutuhan pokok hingga pemulihan ekosistem yang hancur. Kesejahteraan tanpa keadilan lingkungan hanyalah kemakmuran semu yang sewaktu-waktu bisa tersapu oleh amarah alam yang telah lama kita abaikan.

Tahun 2026 harus menjadi titik balik bagi kita semua untuk “menanam kembali” harapan yang lebih membumi. Harapan itu bukan hanya milik mereka yang duduk di kursi pengambil kebijakan, tetapi juga milik para penyintas bencana yang ingin bangkit dari puing-puing kehilangan. Kita membutuhkan keberanian kolektif untuk berhenti mengeksploitasi alam demi keuntungan jangka pendek dan mulai memprioritaskan mitigasi serta pemulihan lingkungan sebagai pilar utama pembangunan nasional. Tanpa komitmen ini, resolusi tahun baru kita hanya akan menjadi pengulangan janji yang usang.

Mari kita tancapkan harapan baru di tahun 2026 ini dengan semangat solidaritas yang melampaui sekat wilayah. Mari kita jadikan duka di Sumatera sebagai kompas moral untuk membangun Indonesia yang tidak hanya kaya secara materi, tetapi juga tangguh dan selaras dengan alamnya. Semoga di tahun ini, kemakmuran yang kita kejar adalah kemakmuran yang inklusif, di mana setiap anak bangsa bisa menatap langit masa depan tanpa rasa takut akan badai yang datang tiba-tiba.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *