ANTARA SOLUSI DAN ILUSI, KETIKA GADGET HANYA GANTI MEDIA TAPI CARA PIKIR TETAP KOLOT

Proyek digitalisasi pendidikan digaungkan sebagai solusi masa depan. Tablet dibagikan, platform digital diadopsi, dan kelas-kelas dilengkapi proyektor. Namun, di balik kemilau teknologi, seringkali yang terjadi hanyalah pemindahan metode mengajar kolot ke dalam medium baru. PDF menggantikan buku paket, kuis online menggantikan ulangan kertas, dan ceramah satu arah kini dibungkus dengan PowerPoint yang monoton.

Digitalisasi yang seharusnya membuka pintu eksplorasi pengetahuan tanpa batas, justru kerap digunakan untuk memperkuat kontrol dan standardisasi. Guru yang tidak diberi pelatihan memadai tentang pedagogi digital akhirnya terjebak pada penggunaan alat, bukan transformasi proses belajar. Teknologi menjadi alat efisiensi administratif, bukan alat liberasi pikiran. Yang digital hanya kulitnya, sementara jiwa pendidikannya tetap instruksional dan terpusat.

Lebih berbahaya lagi, digitalisasi tanpa filosofi yang jelas justru memperparah kesenjangan. Di daerah dengan infrastruktur buruk, program ini menjadi beban. Siswa miskin yang tak punya akses internet atau listrik stabil di rumah semakin tertinggal. Sementara di kota, teknologi justru bisa menjadi alat pengalihan perhatian dari substansi pendidikan yang mandek. Fokusnya bergeser dari “apa yang dipelajari” menjadi “dengan apa belajar”.

Tantangan sesungguhnya bukan pada menempatkan gadget di tangan siswa, tetapi pada mendigitalkan mindset para pendidik dan pengambil kebijakan. Teknologi pendidikan harusnya membuka ruang bagi pembelajaran personal, proyek kolaboratif lintas geografi, pengembangan literasi digital kritis (bukan hanya teknis), dan eksplorasi kreatif. Tanpa perubahan paradigma itu, digitalisasi hanyalah ilusi kemajuan—ganti baju baru untuk tubuh yang masih lama.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *